Asal Usul Mustika Patih Gupolo

Sore itu, ada sebuah keinginan kuat yang menuntun kang Masrukhan menuju keraton Boko. Tanpa pikir panjang pun kang masrukhan langsung menuju keraton Boko setelah menemui kliennya yang datang untuk menebus mahar sebuah keris pusaka.

Suasana keraton Boko nampak indah ketika malam menjelang. Kang Masrukhan memutuskan untuk melakukan ritual di candi Pembakaran keraton Boko.

Saat melakukan ritual, konsentrasi kang Masrukhan terusik dengan jeritan arwah di candi pembakaran. Awalnya mereka hanya berteriak saja, namun lama kelamaan satu dari mereka mulai menyerang. Kang Masrukhan pun tidak mau kalah. Dikeluarkannya ajian yang dimilikinya.

Melihat satu ruh tumbang, arwah yang lainnya ikut menyerang. Merasa dikeroyok arwah, kang Masrukhan mencoba mengeluarkan tenaganya dengan lebih besar daripada sebelumnya.

Pertempuran dengan para arwah pun terjadi cukup lama, hingga akhirnya ada seseorang yang bertubuh tinggi besar dan berotot kekar.

Pada awalnya kang Masrukhan mengira itu adalah sosok Prabu Boko, namun perawakannya sedikit berbeda dengan sosok Prabu Boko yang ditemuinya saat supermoon di alun-alun kota Kudus.

Kang Masrukhan pun segera menyimpulkan, mungkin itu adalah sosok Patih Gupolo, Patih setia Prambanan.

Watak Patih Gupolo ternyata sebelas duabelas dengan Prabu Boko. Serangan demi serangan pun diluncurkan Patih Gupolo tanpa henti seolah tak mau memberikan celah kepada lawannya. Pertempuran pun terjadi cukup alot.

Nampak tetesan darah keluar dari kedua belah pihak. Namun seolah-olah ada api besar yang membara menyala-nyala membakar semangat keduanya hingga tak ada satu pun dari keduanya yang ingin menghentikan pertarungan sengit ini.

Hingga tiba saat kang Masrukhan menghunuskan pedangnya tepat di leher patih Gupolo. Tiba-tiba saja muncul sosok Kanjeng Putri Roro Jonggrang dari arah barat dengan sebuah senyuman yang menghiasi wajah Kanjeng Putri. Seolah ini adalah ujian terhadap kang Masrukhan dibandingkan kesetiaan patih Gupolo.

Tanpa sepatah kata pun Kanjeng Putri memberikan sebuah isyarat kepada patih Gupolo. Segera patih Gupolo mendekati kang Masrukhan dan menyerahkan tombak yang sebelumnya digunakannya untuk menyerang kang Masrukhan.

Dan kemudian patih Gupolo menghilang tanpa jejak. Begitu pula Kanjeng Putri yang menghilang setelah memberikan sebuah senyuman pertanda puas akan pertarungan yang baru saja berlangsung.

Saat membuka mata sekembalinya dari perjalanan astral, tepat di tangan kanan kang masrukhan tergenggam sebuah batu mustika yang bentuk dan warnanya sama persis dengan batu yang menghiasi ujung tombak patih Gupolo.

Saat melakukan penerawangan, terlihat sebuah kekuatan kewibawaan yang terdapat di dalamnya. Selesai melakukan ritual kang Masrukhan mengelilingi keraton Boko terlebih dahulu sebelum akhirnya kembali ke Kudus dengan sebuah mustika dan senyuman bangga.