Asal Usul Mustika Darah Boko

Hari itu adalah hari wafatnya mbah Supardi yang merupakan kakek dari kang Masrukhan. Entah kenapa hari itu kang Masrukhan diliputi sebuah keinginan yang sangat mendalam untuk mengunjungi Kanjeng Putri Roro Jonggrang di candi Prambanan.

Siang itu akhirnya kang Masrukhan memutuskan untuk mengbatalkan jadwal dengan beberapa kliennya dan langsung menuju candi.

Situasi candi terasa cukup aneh kala itu, setiap akhir pekan biasanya banyak sekali orang yang berkunjung ke candi. Namun berbeda dengan hari itu, suasananya terasa sangat sepi. Tak ada seorang pun yang terlihat berlalu lalang di sekitar candi Prambanan.

Untuk mengetahui arti dari keganjilan ini, kang Masukhan memutuskan melakukan ritual di depan arca Roro Jonggrang dan menembus dimensi astral menuju keberadaan Kanjeng Putri Roro Jonggrang.

Tak lama berselang, datanglah sesosok putri cantik nan jelita berperawakan tinggi langsing. Ya, benar. Kanjeng Putri Roro Jonggrang yang datang.

Namun aneh, tampak raut wajahnya tidak sesegar biasanya. Kang Masrukhan pun mencoba menanyakan kondisi tersebut dengan sopan dan berawal dari sinilah Kanjeng Putri menceritakan keadaannya. Kanjeng Putri mengisahkan kesedihannya saat mengenang betapa tragisnya kematian ayahandanya, Prabu Baka (dibaca : Prabu Boko).

Saat fajar menjelang, kang Masrukhan segera nyuwun pamit.

Keanehan pun kembali terjadi saat kang masrukhan kembali dari dimensi astral Kanjeng Putri Roro Jonggrang. Nampak darah berceceran di pelataran candi membentuk sebuah jejak.

Karena diliputi rasa penasaran yang teramat dalam, kang Masrukhan pun berjalan mengikuti jejak tetesan darah tersebut. Setelah sekitar 3 kilometer berjalan, sampailah kang Masrukahn di keraton Boko. Dan tetesan darah tersebut berhenti tepat di tengah-tengah pintu gerbang utama keraton.

Darah yang berada di tengah pintu gerbang utama tersebut sangatlah banyak hingga menjadi sebuah genangan penuh darah. di tengah-tengah genangan tersebut tampak ada sesuatu yang aneh, kang Masrukhan pun mengambilnya. Seperti yang beliau duga sebelumnya, itu adalah sebuah batu mustika.

Aneh, setelah beliau mengambil batu mustika tersebut, genangan darah seolah menghilang, tetesan darah yang mengantarnya menuju keraton Boko juga menghilang tanpa bekas sama sekali.

Dengan sebuah senyum, kang Masrukhan pun kembali ke Kudus. Ya, mungkin beginilah cara Kanjeng Putri memberikan oleh-oleh, pikir beliau.